BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang Masalah

            Mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan salah satu tujuan Nasional bangsa Indonesia yang tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 45. Sejalan dengan itu maka pemerintah telah mengadakan usaha-usaha secara bertahap, untuk meningkatkan pendidikan dan perintisan perluasan kesempatan belajar dengan menyediakan fasilitas belajar dan bentuk pelayanan khusus serta meningkatkan pembinaan teknis  dengan melibatkan semua satuan pendidikan tanpa terkecuali pendidikan di taman kanak-kanak.                                                                                                              Taman kanak-kanak  merupakan lembaga pendidikan formal sebelum anak memasuki sekolah dasar. Lembaga ini dianggap penting karena usia ini merupakan usia emas ( golden age ) yang merupakan masa peka dan hanya datang sekali. Masa peka adalah suatu masa yang menuntut pengembangan anak secara optimal. Penelitian menunjukkan bahwa bahwa 80 % pengembangan mental dan kecerdasab anak berlangsung pada usia ini. Kenyataan  di lapangan menunjukkan bahwa anak sekolah dasar yang tinggal kelas, drop out, khususnya pada kelas rendah disebabkan anak yang bersangkutan tidak melalui pendidikan di TK.

              Salah satu tugas pokok dari pendidikan di Taman Kanak-kanak adalah mempersiapkan anak didik dalam pembentukan pengembangan mental dan kecerdasan. Diantaranya adalah kecerdasan anak dalam berkomunikasi dengan orang lain, yang kemudian di namakan sebagai kecerdasan berbahasa. Pengembangan bahasa di arahkan agar anak mampu menggunakan dan mengepresikan pemikirannya dengan menggunakan kata-kata.

Usia pra sekolah (TK) merupakan usia yang efektif untuk mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki anak, karena TK adalah pendidikan persiapan awal agar anak memiliki kemampuan dasar untuk memasuki jenjang pendidikan selanjutnya.

          Tujuan pendidikan di Taman kanak-kanak itu sendiri adalah membantu anak didik mengembangkan berbagai potensi baik psikis dan fisik yang meliputi moral dan nilai-nilai agama, sosial, emosional, kognitif, bahasa, fisik motorik, kemandirian dan seni untuk siap memasuki pendidikan.

Berkenaan dengan hal tersebut maka guru sebagai pendidik formal di sekolah tidak dapat dipandang ringan tugasnya, karena rnenyangkut berbagai aspek kehidupan serta menuntut perlanggungan jawab moral yang berat. ‘ Lebih-lebih guru TK dimana anak usia TK dalam ilmu jiwa perkembangan sedang mengalami fase peralihan dari masa egosentris ke masa sosial dimana anak dituntut untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya (sekolah). Mengingat hal tersebut maka kemampuan berbahasa merupakan unsur yang perlu dikembangkan di TK. Melalui kemampuan” berbahasa anak diberi bimbingan untuk mengembangkan bahasanya secara wajar dan tepat.

Oleh karena itu jelas kemampuan profesional guru dalam mengelola kegiatan belajar mengajar sangat diperlukan. Guru harus mempunyai keahlian dalam menyampaikan bahan ajar kepada anak didik. Dengan alat peraga yang sesuai dengan kemampuan dan tingkat berfikir anak akan mempermudah anak dalam menerima pelajaran

         Bidang pengembangan kemampuan berbahasa di Taman Kanak-Kanak bertujuan untuk mengembangkan aspek bahasa yang ada pada anak sehingga mereka dapat berkomunikasi dengan baik dengan lingkungannya. Tetapi tidak jarang terjadi di TK bahwa kemampuan anak untuk mendengarkan, berbicara ataupun bercerita sering mengalami kesulitan. Jelas ini merupakan tantangan bagi guru TK untuk dapat mengembangkan kemampuan mendengarkan cerita dan menceritakan kembali isi cerita dengan sederhana (KB indikator 5).

Dalam penelitian ini, peneliti berusaha untuk mengenalkan anak pada kaset rekaman cerita yang dibuat guru dengan harapan dan tujuan bahwa kaset rekaman belum pernah dipakai untuk kegiatan belajar mengajar di TK dan dengan alat peraga yang baru anak akan menjadi lebih senang dan menggali rasa ingin tahu mereka, sesuai dengan karakteristik anak TK sendiri yang selalu menyenangi sesuatu hal yang baru.

Dan sangat diyakini bahwa kegiatan yang menyenangkan anak akan direspon secara positif pula oleh anak, dan nantinya akan dapat membantu mengembangkan kemampuan anak dalam mencapai perkembangan pribadinya dengan optimal

Penelitian Tindakan Kelas ini bermaksud untuk mengembangkan kemampuan mendengarkan  dan menceritakan kembali isi cerita dengan sederhana (KB indikator 5) pada siswa kelompokA di Taman kanak-kanak dharma wanita persatuan tladan II kec. Kawedanan kabupaten Magetan ,  dengan menggunakan  alat  bantu  berupa: kaset rekaman  cerita sederhana.

 

Bahasa merupakan alat komunikasi yang sangat penting karena bahasa berfungsi sebagai alat urituk menyatakan pikiran dan perasaan kepada orang lain juga beifungsi sebagai alat untuk memahami perasaan dan pikiran orang lain. Adapun tujuan dari dilaksanakan bidang pengembangan bahasa di TK adalah :

  1. Mengembangkah kemampuan berkomunikasi secara efektif.
  2. Membangkitkan  kemampuan  untuk mengungkapkan  pikiran,  perasaan, sikap dan pendapat melalui bahasa yang sederhana dan tepat.
  3. Mengembangkan minat untuk berbahasa.
  4. Mengcmbangkjm kemampiian menangkap pembicaiaaii oran^ Iain
  5. Mengembangkan kosakata anak.
  6. Mengembangkan kemampuan berfikir logis dan sistematis.

Berdasarkan hal tersebut, yang dialami peneliti bahwa di TK DWP Tladan II murid kelompok B masih sulit untuk mengembangkan kemampuan menangkap pembicaraan orang lain dan membangkitkan kemampuan untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, sikap dan pendapat melalui bahasa yang sederhana.

Dalam penelitian ini peneliti berusaha untuk membantu mengembangkan motivasi anak dalam mendengarkan cerita dan menceritakan kembali isi cerita dengan bahasa yang sederhana (KB Indikator 5) dengan bantuan alat peraga audio berupa kaset rekaman cerita.

Adapun maksud dan tujuannya adalah untuk mendengar (melatih anak menangkap dan memahami pembicaraan orang lain) dan bercerita (melatih daya tangkap, daya pikir, daya konsentrasi dan membantu perkembangan anak).

 

 

B. Perumusan Masalah

Dalam kegiatan belajar mengajar guru menggunakan alat bantu . mengajar atau media pendidikan disamping sumber belajar untuk memperjelas suatu topik atau bahasan, akan tetapi kadang guru merasa kesulitan dalam melaksanakan tugasnya.

Oleh sebab itu seorang guru TK dituntut harus mengerti, memahami dan menghayati prinsip pendidikan dan pengajaran serta tahap perkembangan anak. Sehingga anak dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan suasana yang menyenangkan karena sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembang anak.

Berpijak dari sinilah peneliti berusaha untuk merumuskan masalah penelitian ini sebagai berikut “Apakah alat peraga audio (kaset rekaman) dapat .meningkatkan kemampuan bahasa dalam mendengarkan cerita dan menceritakan kembali isi cerita dengan sederhana pada anak kelompok B di Taman Kanak-Kanak DWP Tladan II Kec. Kawedanan  Kabupaten Magetan.

 

C. Hipotesis

Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan, peneliti berusaha untuk menemukan jawaban yaitu dengan menggunakan kaset rekaman dapat meningkatkan kemampuan bahasa anak dalam mendengarkan cerita dan menceritakan kembali isi cerita dengan sederhana (indikator 5) pada anak kelompok   A   di   Taman Kanak-kanak Dharma Wanita Persatuan Tladan II Kec. Kawedanan  Kabupaten Magetan.  

D. Manfaat Penelitian

  1. Guru

-          Memotivasi     guru     dan     teman     sejawat    untuk    selalu    dapat mengembangkan    kreatifitasnya    dalam    proses    belajar    mengejar terutama dalam bidang pengembangan kemampuan bahasa.

-          Proses   belajar   mengajar   akan   jauh    lebih   efektif   efisien    dan menyenangkan.

  1. Murid

-          Dengan adanya variasi alat peraga yang diberikan guru dapat merangsang anak untuk lebih terlibat dalam proses belajar mengajar yang aktif, kreatif dan menyenangkan.

 

E. Landasan Teoritis

Untuk menghindari salah pengertian terhadap istilah yang digunakan, peneliti akan menguraikan hal-hal yang berhubungan dengan judul penelitian, yaitu :

  1. Kemampuan berbahasa :  mendengarkan cerita dan menceritakan kembali isi      

 Cerita dengan sederhana   (  Indikator 5  ).

            Kemampuan berbahasa merupakan salah satu dari bidang pengembangan kemampuan dasar yang dipersiapkan oleh guru untuk meningkatkan kemampuan dan kreativitas anak sesuai dengan tahap perkembangannya dalam hal berkomunikasi dengan orang lain.

Bidang pengembangan kemampuan berbahasa di TK bertujuan untuk mengembangkan aspek bahasa yang ada pada anak sehingga mereka dapat berkomunikas’i dengan baik dengan lingkungannya. Yang termasuk dalam ruang lingkup pengembangan kemampuan berbahasa adalah kegiatan bercerita. Pada dasarnya anak-anak suka bercerita, antuisme mereka berasal dari suatu tempat yang sangat dalam dijiwa mereka Kegiatan bercerita merupakan cara yang sangat efektif untuk mengkomunikasikan pengetahuan dari generasi ke generasi lain. Selain itu bercerita memberikan peluang bagi anak untuk memasok image batin untuk menyemai image yang ada dalam sebuah cerita. Hal ini tentunya menyebabkan kekuatan visualisasi anak. Sedangkan bercerita mempunyai tujuan khusus seperti yang dikutip peneliti dalam buku pedoman guru bidang pengembangan kemampuan bahasa (1991) yaitu :

1)   Melatih daya tangkap

2)   Melatih daya pikir

3)   Melatih daya konsentrasi

4)   Membantu perkembangan fantasi

5)   Mencitakan suasana menyenangkan dan akrab di kelas

Dalam penelitian ini,  peneliti mencoba memotivasi kemampuan siswa untuk dapat mendengarkan cerita dan menceritakan kembali isi cerita dengan baik, sehingga anak dapat mengekploitasi kemampuan berkomunikasi melalui cerita-cerita yang menarik sekaligus dapat difungsikan sebagai alat pembelajaran yang dapat mendekteksi kepekaan fungsi organ telinga dalam menerima pesan.

 

 2.  Alat peraga Audio (Rekaman kaset)

Individu    di    dalam    hidupnya    senantiasa    berinteraksi    dengan lingkungannya melalui alat indera, baik . melalui visual maupun audio. Dengan berinteraksi anak akan dapat mengkomunikasikan dan menyampaikan isi hati kepada orang lain sehingga orang lain tahu apa yang menjadi pesan dari anak.

Sesuai dengan pertumbuhan anak TK yang mula-mula tertarik pada sesuatu yang nyata’daripada yang abstrak, maka dalam psikologi belajar pun dapat kita peroleh landasan teoritis bahwa pengetahuan yang diamati dan  diadakan  pengenalan  akan  mendapatkan  kesan  yang baik  untuk nantinya disimpan sebagai tanggapan yang dapat mempermudah di dalam proses reproduksi dalam rangka fantasi dan asosiasi anak didik, maka dalam kegiatan belajar mengajar selain metode, bahan ajar, sikap guru juga alat peraga yang mempunyai peranan penting sebagai alat bantu mengajar   untuk   memudahkan   komunikasi   dengan   anak,   juga   dapat membangkitkan   minat   sehiigga  akan  timbul   perhatian  anak  terhadap pelajaran.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan alat peraga audio yang dimaksud  adalah  alat  peraga  yang  dapat  menyampaikan  pesan yang diterima oleh indera telinga, yaitu jenis rekaman (tape recorder).

Adapun maksud alat peraga tersebut disamping membantu dalam berpikir abstrak, juga memberi variasi dalam kegiatan belajar mengajar didalam mewujudkan bahan yang diajar.

  1. Hubungan alat peraga  audio (rekaman) dengan  karakteristik anak TK

ditinjau dari 3 segi :

a.   Segi Fisik

Anak usia 4-6 tahun, yang disebutanak usia pra sekolah (TK) mengalami tingkat tumbuh kembang yang sangat pesat. Organ-organ tubuhnya berkembang dengan baik seiring dengan aktifitasnya. Begitu pula dengan alat inderanya, dalam hal ini indera pendengaran dan kenilnpun intelegensinya untuk mengolah memori yang didapat. Rekaman memberikan pengalaman mendengar. Apa yang mereka dengar akan menimbulkan tanggapan dalam ingatan. Demikian pengalaman-pengalaman itu turut membentuk jiwa seseorang. Oleh sebab itu melalui rekaman, siswa di sekolah akan memperoleh pengaruh yang berharga bagi pembentukan pribadinya. Mendengar menurut Oemar Hamalik (1986:121) adalah suatu proses mental, dan seseorang akan mendengar dengan baik apabila mengetahui untuk apa ia mendengarkan. Oleh sebab itu untuk mendapatkan hasil yang baik guru hendaknya lebih dulu menjelaskan kepada siswa apa dan untuk apa tujuan siswa mendenguikan rekaman itu. Kesimpulannya, bahwa rekaman adalah alat yang efektif dan etlsien untuk digunakan dalam kegiatan belajar mengajar di TK.

b.   Segi mental

Dalam hal ini anak usia 4-6 tahun yang disebut juga usia pra sekolah   (TK)   menginjak   masa   peka,   anak   mulai   sensitif untukr menerima  berbagai   upaya   perkembangan   seluruh  potensi   dirinya, dimana pada usia ini anak mulai merespon stimulasi yang diberikan lingkungan. Selain itu menurut Dr. Benjamin Bloom perkembangan kecerdasan anak akan mengalami peningkatan dari 50% menjadi 80%. Upaya-upaya pendidikan yang diberikan hendaknya dilakukan dalam situasi yang menyenangkan dengan menggunakan strategi,  metode, mated (bahan ajar) dan media yang menarik serta mudah diikutlanak. Rekaman cerita merupakan media pendidikan v&riasi yang diberikan oleh  peneliti,  yang  sebelumnya  tidak   pernah  diberikan  pada  anak. Dengan   media   yang    masih    baru    bagi    anak   diharapkan   dapat merangsang motivasi anak untuk lebih kreatif dalam bereksplorasi dam membangkitkan rasa ingin tahu anak.                   

c.   Segi Sosial

Dalam perkembangannya anak usia 3-6 tahun sedang mengalami fase peralihan dari masa egosentris ke masa sosial. Dalam kegiatan belajar mengajar guru harus mampu menciptakan suasana yang penuh perhatian dan kasih sayang sehingga anak dapat mengembangkan rasa percaya dirinya sendiri, teman atau orang lain serta dapat bersosialisasi baik dalam keluarga, kelompok maupun lingkungan. Dalam kegiatan bercerita dengan mendengarkan rekaman sangat membantu anak dalam mengembangkan kemampuan sosialisasinya. Rekaman bisa menarik perhatian penuh para siswa yang mendengarkannya. Mereka akan berkerumun secara berkelompok apabila mendengarkan rekaman yang sedang diputar. Mereka selain mendengarkan juga melakukan kegiatan seperti mengikuti lambat-lambat kalimat yang didengar, bertanya dalam hati dan mencoba menjawabnya, menarik kesimpulan dan saling bercerita diantara kelompok untuk mencocokkan apa yang telah didengarnya.

Setelah metengkafi uraian di ataSjSecra teoritis dapat dikatakan bahwa alat peraga audio (rekaman) dapat meningkatkan kemampuan berbahasa dalam mendengarkan cerita dan menceritakan kembali isi cerita dengan sederhana.

Argumentasi secara teoritis saja tidak cukup, untuk itu pedu pembuktian secara praktek yaitu dengan melihat hasil penelitian ini yang akan peneliti sajikan pada Bab II dan Bab III.

  1. Pelaksanaan    Bercerita    dengan    Menggunakan    Alat    Peraga    Audio (Rekaman)

Kegiatan belajar mengajar dalam bercerita dengan rekaman, selain menuntut anak dapat berkonsentrasi dengan baik juga harus memahami isi cerita yang didengarnya. Anak disuruh mendengarkan isi cerita yang telah direkam dengan seksama dan bila perlu diputar ulang. Setelah itu anak dijak untuk tanya jawab dengan guru. Lalu satu persatu anak disuruh menceritakan kembali isi cerita dengan bahasa vans sederhana dan benar, Dalam penelitian ini penelit’ memberi waktu 1 kali jam pertemuan (40 menit). Yang perlu diperhatikan peneliti dalam kegiatan bercerita/menceritakan kembali isi ceritay menurut Fred. J. Schonel (1997:369) yaitu :

1)   No remarks were made.

2)   No injunction given.

3)   No suggestion put forward.

4)   No question answered.

5)   No spelled any and all of which prosedures can.

6)   If not strictly observed, distract the child from his own ideas to those or other people.

Bila diterjemahkan secara bebas oleh peneliti adalah sebagai berikut :

1)   Tidak boleh membuat ucapan berupa teguran.

2)   Tidak boleh memberikan perintah (keputusan).

3)   Tidak boleh mempengaruhi.

4)   Tidak boleh menjawab pertanyaan.

5)   Tidak boleh mengeja beberapa kata atau semua prosedur yang ada.

6)   Tidak boleh mengamati dengan ken atau mengalihkan perhatian anak.

Sedangkan penilaiannya, karena yang dihadapi anak TK maka yang paling penting ialah kesesuaian isi cerita, sedangkan untuk struktur kalimat dan ejaan tidak menjadi pertimbangan peneliti.